Vacation in the Grandma’s House

https://youtu.be/8_Z-d7bE-8I

Eksposisi

Membaca kembali perjalanan Jaap Kunst, seorang pegawai colonial yang pernah menjabat sebagai musikolog Dutch East- Indie yang merekam music-musik di Nusantara sangat mengagumkan. Bagaimana tidak, warisan yang ditinggalkan sangat banyak dan beragam, tak hanya persoalan kuantitas material tetapi jika dibayangkan lima belas tahun tinggal di Hindia-Belanda dengan teknologi yang masih terbatas rekaman atas perjalanan dan penelitian lapangan masih dapat dibuka kembali arsipnya. Meskipun dengan perkembangan wacana kritis, selalu muncul beragam tanya dalam persoalan arsip colonial. Bagaimana arsip ini akan dibuka? untuk siapa?  bagaimana relasi antara arsip, pengetahuan dan kuasa kolonial?

Sekitar 100 tahun lalu Jaap Kunst memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang ahli hukum di sebuah bank di Belanda. Jaap Kunst mencoba peruntungan baru sebagai musisi dengan melakukan perjalanan bersama kedua rekannya ke Hindia Belanda atau kini disebut Indonesia. Pentas dari panggung ke panggung sebanyak 95 konser dalam delapan bulan di beberapa club di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan menjadi kesibukan baru yang pada akhirnya mengubah kehidupan Jaap Kunst. Ketika berada di Yogyakarta, Jaap Kunst untuk pertama kalinya melihat pertunjukan gamelan di Puro Pakualaman, dan dia sangat terpesona akan harmonisasi suara gamelan(van Zanten, 1996). Menurutnya, suara tersebut sangat indah dan memiliki kerumitan tersendiri. Atas ketertarikannya Jaap Kunst mulai merekam pertunjukan-pertunjukan gamelan dengan teknologi perekaman yang sedang menjadi trend masa itu. Wax silinder sebuah temuan luar biasa dari Thomas Alfa Edison di akhir tahun 1908 (Pelikan, 2013)menjadi satu-satunya cara untuk merekam dan mengabadikan suara gamelan meski hanya berdurasi 2-4 menit. Jaap Kunst melihat dan mendengar gamelan memiliki bentuk dan struktur music yang berbeda dari music yang dia kenal. Dengan pitch nada yang juga berbeda dari biola yang biasa dia mainkan.  Atas perbedaan dan keingintahuannya akan jenis music yang bary dia ketahui dan dengar, rekaman dari wax cylinder tersebut dia kirim ke Hornbostel seorang musikolog Jerman yang bekerja di Berlin Phonogram Archive, selain pada saat itu Berlin Phonogram Archive sudah memiliki teknologi untuk memindah suara dari wax cylinder ke plat yang lebih stabil. Melalui korespondensi Jaap Kunst mulai aktif berdiskusi mengenai suara gamelan dengan Hornbostel. Meskipun bukan seorang musikolog, tetapi seorang ahli hukum Jaap Kunst tumbuh dalam lingkungan music karena kedua orang tuanya berprofesi sebagai musisi. Tidak hanya kepada Hornbostel, Jaap Kunst juga intens berdiskusi dengan seorang seniman juga arsitek dari Yogyakarta yang bernama KRT Joyodipuro, bahkan Jaap Kunst sempat beberapa waktu tinggal di rumah KRT Joyodipuro untuk menikmati pertunjukan gamelan. Jaap Kunst juga kerap meminta pertunjukan khusus kepada KRT Joyodipuro dengan membayar sejumlah uang golden. Selain KRT Joyodipuro, Jaap Kunst juga menjalin pertemanan musical dengan Mangkunegoro VII, jalinan kisah ini diketahui dari arsip korespondensi yang hingga kini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Amsterdam (Barendregt & Bogaerts, 2014).

Ketertarikan Jaap Kunst akan gamelan, pada akhirnya membuat Jaap Kunst memilih untuk menetap di Hindia Belanda dan berpisah dari kedua rekannya. Jaap Kunst mulai banyak meluangkan waktu untuk mempelajari music-musik yang ada di Nusantara dan tidak hanya gamelan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Kunst mencari pekerjaan baru. Di tahun 1920 Kunst diterima sebagai pegawai senior Departemen Sosial di Batavia dan kemudian pindah ke Bandung.  Sebagai pegawai Jaap Kunst tidak lagi memiliki banyak waktu luang untuk melakukan penelitian lapangan, meski demikian dalam satu tahun dia mendapatkan libur selama 14 hari dan libur tersebut dia pergunakan untuk melakukan penelitian lapangan di Bali sembari berbulan madu. Selain itu waktu sepulang kantor juga dipergunakan dengan baik untuk melakukan penelitian lapangan di sekitaran Jakarta dan Bandung. Jaap Kunst juga sangat aktif melakukan korespondensi dengan Hornbostel serta beberapa kawan musikalnya seperti Mangkunegoro VII dan KRT Joyodipuro. Jaap Kunst juga mempublikasikan hasil penelitannya, seperti De toon kunst van Bali (The Music of Bali, 1925) dan juga Hindoe-Javaansche muziekinstrumenten (Hindu Javanese musical instruments, 1927). Tulisan Jaap Kunst mendapat respon positif dari beberapa Lembaga di Eropa seperti Koninklijke Academie van Wetenshappen (Royal Academy of Sciences) juga the French Legion d Honneur.

Di tahun 1927 Jaap Kunst untuk pertama kalinya kembali ke Belanda dan banyak diundang untuk memberikan kuliah di Belanda dan sekitarnya, sehingga dapat berjumpa dengan guru jarak jauh, Hornbostel untuk pertama kali. Jaap Kunst kemudian mulai dikenal sebagai peneliti music dan banyak mendapatkan grant dari Dutch East Indian Government, dan akhirnya pada tahun 1930 Jaap Kunst diangkat sebagai peneliti music di Kementerian Pendidikan dan kembali ke Hindia Belanda. Dengan jabatan yang baru Jaap Kunst mulai melakukan banyak perjalanan untuk penelitian lapangan. Bersama istrinya Kathy van Wely, Jaap Kunst mendirikan Musikologi Arsip yang mengkoleksi foto, rekam suara, film bisu, juga instrument. Sayangnya di tahun 1932 pemerintah memotong anggaran sehingga jabatan sebagai peneliti music dihapuskan. Dan Kunst beralih menjabat sebagai sekretaris dari direktur yang bertugas untuk mendatangi tempat-tempat terpencil di Hidia Belanda. Sebuah kondisi yang sulit diungkap dengan kata antara kehilangan profesi resmi sebagai peneliti music tetapi mendapat kesempatan mengunjungi wilayah-wilayah terpencil yang sangat langka.  Jaap Kunst mendatangi banyak pulau kecil di sekitar Sumatera, Sulawesi, Flores, Timor, Maluku, New Guinea. Dia menjumpai music-musik yang sangat beragam dan selalu merekam. Kunst mendekati komunitas masyarakat untuk dapat merekam music dengan berbagai cara. Sebagai seorang colonial Jaap Kunst memulai perkenalan dengan masyarakat yang dikunjunginya dengan memainkan biolanya, dan kemudian meminta masyarakat memainkan musiknya, metode ini dikenal sebagai metode Jaap Kunst. Untuk dapat merekam music yang bukan merupakan hal mudah, alat rekam yang cukup besar merupakan barang baru dan menakutkan bagi masyarakat terpencil, sehingga untuk dapat merekam Jaap Kunst sering harus mengelurkan biaya dengan uang pribadi.

Di tahun 1934 Jaap Kunst kembali ke Belanda dan menerbitkan tulusan De Toonkunst van Java atau dikenal secara luas Music in Java. Di Belanda Jaap Kunst mulai memberikan kuliah mengenai music mulai dari penelitian yang pernah dia lakukan di Terschelling Belanda hingga New Guinea. Di tahun 1936 Jaap Kunst dipilih sebagai curator di Departemen Antropologi of the former Colonial Institute in Amsterdam (Royal Tropical Institute). Dengan jabatan tersebut Jaap Kunst mengorganisasi hasil perekaman yang berupa buku, foto, negatives, rekam suara, personal korespondensi, instrument music yang tidak hanya berasal dari Hindia Belanda tetapi lebih global dan membuka Musicological Archives dan selanjutnya menjadi Ethnomusicological Archives (van Zanten, 1993).

Dengan pengetahuannya sebagai peneliti music di Hindia Belanda Jaap Kunst berafiliasi dengan University of Amsterdam di tahun 1942 yang berarti dia mengajar sebagai dosen tamu. Dia mengajar ‘comparative musicology’ setelah memberikan ceramah yang berjudul De waardering de exoctiche muziek (The appreciation of exotic music), Jaap Kunst mulai memposisikan diri sebagai ilmuwan music dan mulai berani melawan Eurocentrism yang laten. Perang dunia ke dua pecah bersama Jerman menduduki Belanda membuat Jaap Kunst memiliki waktu luang untuk bekerja dengan material dan catatan perjalanan selama di Hindia Belanda.  Hasil kerjanya yang berupa buku, artikel dan brosur mulai dikenal luas dan di tahun 1950 dia dipilih menjadi honorary president the International Folk Music Council and the Society for Ethnomusicology dan mendapatkan kesempatan studi banding ke Amerika di tahun tersebut.

Sepulang dari perjalanannya di Amerika, Jaap Kunst diangkat sebagai dosen di University Amsterdam pada tahun 1953. Dengan pidato pertamanya yang berjudul Sociologische bindingen in de muziek (Sociological relationships in music), Jaap Kunst menjelaskan keterkaitan music yang tidak dapat lepas dari konteks social yang luas dan tidak hanya membahas Indonesia tetapi seluruh dunia. Antara 1940-1954 Jaap Kunst memiliki banyak asisten yang belajar dibawah pengawasannya, salah satunya Mantle Hood yang menulis tentang masalah Javanese Tonal System. Hood kemudian membawa apa yang dipelajari dari Jaap Kunst dalam hal tradisi keilmuan untuk diajarkan di UCLA di Amerika. Jaap Kunst tidak pernah kembali ke Indonesia sejak 1934, dan meninggal di tahun 1958 karena kanker tenggorokan dan menjadi anggota the Royal Dutch Academy of Sciences.

Apa yang diajarkan Jaap Kunst kepada murid-muridnya kini dikenal secara luas sebagai disiplin ilmu yang disebut etnomusikologi. Dan material yang dulu di koleksi berupa rekam suara, foto, film, dias, juga arsip korespondensi tersimpan di beberapa tempat, antara lain Bijzondere Collection UvA, Berlin Phonogram Archive, Museum Nasional Indonesia dalam kondisi yang tidak terorganisasi dengan baik, setelah kurang lebih berusia 100 tahun. Di tahun 2017 Department Musikologi UvA menginisiasi projek untuk membuka warisan Jaap Kunst dibawah Kurator Barbara Titus. Seorang musikolog yang mengajar di Universitas tersebut, selain pernah menghabiskan masa kecil tinggal di Indonesia.

Arsip: Ruang untuk Melupakan, Mengingat dan Membuat Sejarah

Sebagai seseorang yang bergelut di bidang etnomusikologi, perkenalan saya dengan Jaap Kunst belum pernah mencapai kata ‘akrab’, meski istilah etnomusikologi diinisiasi oleh nya. Saat masih di bangku kuliah saya mengenal Jaap Kunst melalui karyanya yang berjudul Music in Java, meski saya tidak pernah merasa tuntas membaca buku tersebut. Dalam buku tersebut Jaap Kunst menjelaskan bagaimana tone dan scale system dalam gamelan Jawa dan Sunda dengan pembahasan sesuai sudut pandang music diatonic, serta membahas historifikasi gamelan dengan cukup detail. Secara subjektif saya merasa buku ini sulit dipahami dan dimengerti, mungkin karena sekilas perhalaman berisi symbol dan angka yang tampak rumit dan logic.

Meski saya lahir dan tumbuh di kota Yogyakarta, dimana gamelan dianggap sebagai representasi identitas budaya Jawa namun saya baru berkesempatan mempelajari gamelan ketika  menempuh pendidikan di jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Selama lima semester saya mempelajari juga memainkan gamelan, tetapi tetap jauh dari kata ‘ahli’. Walaupun tidak asing, tetapi pola pembelajaran gamelan dengan transkripsi angka dan logika music barat cukup membuat bingung dan bergantung pada partiture yang diberikan. Pernah pada sebuah kesempatan di tahun 2014 saya diundang untuk melihat pembelajaran gamelan di Konservatori Amsterdam oleh Elsje Plantema dan Michiel Niemantsverdriet, saya sangat kaget karena mahasiswa di kelas tersebut sangat mahir bermain gamelan dan tidak terlihat mereka membaca partiture. Hal ini sangat berbeda dari apa yang saya pelajari. Mereka mengajak saya bermain bersama dan tentu saja saya sangat malu karena saya tidak se mahir mereka dan bergantung pada partiture. Saya bertanya kepada Elsje Plantema bagaimana bisa mereka menjadi sangat mahir dan tidak bergantung pada partiture dengan singkat Elsje menjawab bermain gamelan tentunya dengan rasa. Jawaban ini kemudian menjadi sebuah kegelisahan dan menimbulkan banyak tanya.

Dalam sebuah riset kecil, saya mencoba untuk mendata proses pembelajaran gamelan untuk anak-anak di kota Yogyakarta, dan saya menjumpai hampir seluruh komunitas gamelan baik formal dan non formal menggunakan partiture sebagai metode pembelajaran bukan dengan rasa. Dalam buku Music in Java, Jaap Kunst secara sekilas membahas tentang metode pembelajaran santiswara yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara pendiri Sekolah Taman Siswa dan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Santiswara merupakan metode yang digunakan dalam pembelajaran gamelan pada masa itu dan determinan dari metode ini adalah mengolah rasa dalam bermain gamelan (Becker et al., 1975). Tetapi mengapa metode pembelajaran gamelan kini bergantung pada transkrip notasi angka? Sistem penotasian gamelan dengan angka ditengarai terpublikasi dan teradopsi dengan luas karena buku Music in Java.

Pada tahun 2014 saya mendapat kesempatan menjadi dosen tamu di Department Music University van Amsterdam untuk mengajar beberapa mata kuliah mengenai Kebudayaan Indonesia bersama Barbara Titus. Selain mengajar, saya juga mengikuti beberapa kelas serta diskusi sebagai pendengar dan pada kesempatan itu Barbara Titus memberi saya banyak sekali materi bacaan kuliah mengenai cultural musicology (ethnomusicology) yang sangat berbeda dari buku  Music in Java. Bacaan-bacaan inilah yang kemudian membuka pikiran sempit saya mengenai etnomusikologi yang ternyata tak sekedar bentuk, fungsi, makna, organologi dan notasi. Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu yang dikembangkan oleh Jaap Kunst telah berkembang begitu luas, namun di Indonesia tempat dimana objek material ilmu tersebut muncul masih pada level usaha pelestarian kebudayaan dan tidak mengikuti wacana global.

Ketika di University van Amsterdam, Barbara membagi ruang kerjanya dengan saya, dia menceritakan bahwa ruangan tersebut dahulu milik Ernst Heinz salah seorang murid Jaap Kunst, tak hanya itu Barbara juga menunjukkan peninggalan Jaap Kunst yang tersimpan di ruangan tersebut.  Barbara juga menunjukkan list peninggalan Jaap Kunst yang sudah berhasil di inventarisasi dengan jumlah dan ragam yang memukau. Dan di saat itu saya merasa baru berkenalan dengan Jaap Kunst. Saya melihat beberapa koleksi wax cylinder, arsip surat menyurat, foto, film, rekam suara yang beraneka ragam, serta membaca sebuah kompilasi tulisan Jaap Kunst dan mahasiswanya yang sangat menarik. Dalam buku tersebut saya baru mengetahui bahwa salah satu alasan Jaap Kunst melakukan riset lapangan dengan perekaman di wilayah-wilayah eksotis  dengan motivasi usaha konservasi sebelum semua hilang. Jaap Kunst merasa hadirnya Misionaris membuat budaya musik dan pertunjukan  di Nusantara akan hilang perlahan.

Bagi Jaap Kunst penelitian lapangan berarti mencari informasi secara mendalam tentang konstruksi dan aplikasi dalam bermain musik, membuat rekaman dalam bentuk suara, film dan foto serta mengkoleksi instrumen musik dari kelompok masyarakat yang dikunjungi. Semua dikerjakan dengan harapan untuk memperoleh pengetahuan dan dapat digunakan untuk generasi mendatang. Jaap Kunst menyadari akan perkembangan jaman yang memungkinkan kebudayaan secara cepat ataupun lambat akan menghilang. Konsepsi konservasi yang ditawarkan oleh Jaap Kunst sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut, yakni bagaimana penelitian dan perekaman dianggap sebagai kerja konservasi, bukan pada menjaga sebuah praktek kebudayaan supaya tetap dan tidak berubah(Rouget & Kunst, 1960).

Di kepala Jaap Kunst, Etnomusikologi bukan sekedar permainan musik, pertunjukan, dan selesai dalam peristiwa penikmatan dari penonton tetapi sesuatu yang kompleks dan humanis. Ada upaya sebuah perekaman langsung di tempatnya lahirnya sebuah musik dengan atmosfir yang tak bisa dilepaskan untuk keperluan kebutuhan pengetahuan di masa mendatang. Perjalanan Jaap Kunst menyentuh setiap ruang baru merupakan kerja interdisiplin dalam mendekati musik dan konteksnya. Rekaman dan tubuh merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan (H. & Kunst, 1956).

Di tahun 2017, Barbara Titus menyampaikan bahwa dia dipilih sebagai kurator untuk membuka warisan Jaap Kunst oleh University van Amsterdam, dia mengajak saya untuk terlibat dalam projek tersebut. Selain saya, dia juga mengajak sejarawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang bernama Sri Margana. Untuk memulai projek tersebut kami mulai mendata warisan Jaap Kunst yang ternyata berjumlah banyak dan tersebar. Dengan title ‘Jejak Suara Tersembunyi: Membuka Warisan Jaap Kunst’ kami mengorganisir instrumen, audio, foto dan video warisan Jaap Kunst. Setelah mendapatkan data awal mengenai warisan Jaap Kunst, kami mengajukan audiensi dengan beberapa pihak terkait untuk mencari dukungan. Sebuah awalan yang luar biasa, kami dapat berjumpa langsung dengan bapak Hilmar Farid yang menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kami mempresentasikan mengenai perjalanan Jaap Kunst dalam merekam musik-musik yang ada di Nusantara, juga memutar beberapa hasil rekaman yang dilakukan oleh Jaap Kunst. Bapak Dirjen selaku pejabat yang berwenang sangat mengapresiasi projek membuka warisan Jaap Kunst tersebut dan meminta staffnya untuk memfollow up dan mendukung kegiatan yang kami lakukan.

Di tahun 2018 dukungan tersebut muncul dengan sebuah kegiatan fokus group diskusi yang membahas langkah kerja dari projek ini, di BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Yogyakarta, yang kebetulan tempat tersebut adalah rumah KRT Joyodipuro dimana Jaap Kunst pernah tinggal di tempat itu. Barbara Titus menyampaikan sebaran dan kondisi dari warisan yang perlu segera di konservasi. Melihat jumlah dari warisan yang fantastis, semua orang yang hadir antusias untuk mengambil bagian. Salah satu hadirin dari provinsi Bali menceritakan bahwa Bali telah melakukan projek serupa yakni repatriasi dokumentasi Bali 1928. Kegiatan ini di inisiasi oleh Edward Herbs dari UCLA bekerja sama dengan akademisi dari Bali I Made Bandem. Dalam projek repatriasi 1928, rekaman-rekaman mengenai kesenian Bali yang diproduksi oleh perusahaan Jerman, Odeon Beka yang tersebar didigitalisasi dan beberapa telah dipulangkan ke komunitas pemilik budaya (Herbst & Herbst, 2019). Tanggapan masyarakat pemilik budaya sangat mengejutkan karena beberapa orang masih hidup dan mengingat proses perekaman pada saat itu. Ini sangat menarik, karena arsip tersebut hadir menjadi media untuk mengingat kembali sebuah peristiwa lampau dengan narasi yang berbeda. Dan sejarah kecil pun terbentuk.

Mendengar apa yang dilakukan Edward Herbs dkk dalam projek Repatriasi Bali 1928, menjadi semakin jelas gambaran akan urgensi membuka warisan Jaap Kunst. Selain berdiskusi kami juga memutar beberapa potongan film bisu yang direkam Jaap Kunst, dan melalui film tersebut hadirin menyaksikan perubahan visual yang begitu mencolok khususnya di beberapa wilayah Indonesia. Indonesia sedang gelisah akan gelombang radikalisme Islam yang berasal dari ekspansi kebudayaan Timur Tengah seolah mendapat angin segar, ketika melihat video kehidupan masyarakat seratus tahun lalu. Wilayah Aceh yang saat ini menerapkan syariat Islam ternyata secara visual tak tampak satupun perempuan mengenakan hijab pada masa itu. Dirjen yang pada saat itu hadir secara tersirat menyatakan kalau warisan Jaap Kunst ini dibuka mungkin akan ada perubahan besar dalam merepresentasikan identitas budaya. Dan akhirnya, rencana pembukaan warisan Jaap Kunst akan dilanjutkan dengan program Kick-Off ditahun selanjutnya.

Pada tahun 2019 program pembukaan warisan Jaap Kunst mulai digaungkan di beberapa wilayah Eropa. Kami mulai melakukan banyak diskusi dan workshop dengan pihak- pihak terkait seperti Beeld en Geluid di Hilversum yang menyimpan Dutch Audio visual heritage, Lautarchive di Humboldt University Berlin yang menyimpan arsip suara berbagai bahasa dan dialek para tahanan perang dunia pertama, Berlin Phonogram Archive yang menyimpan berbagai koleksi alat musik dunia juga rekam suara yang dikirim oleh Jaap Kunst, dan Vienna Phonogram Archive di Austria yang kini aktif dalam digitalisasi dan organisasi sound archive. Dari perjalanan tersebut kunjungan ke Lautarchive sangat menarik perhatian saya. Saya seperti mendatangi sebuah makam dengan ribuan nisan di dalamnya. Di ruangan yang cukup sempit dengan dipenuhi lemari-lemari besi  berisi plat-plat rekam suara dengan katalog yang detail, saya berkesempatan memilih beberapa plat untuk diputar. Salah satu plat yang diputar adalah sebuah plat rekaman dari tahanan yang berasal dari Johor, dengan berbahasa melayu dia berpantun menceritakan kerinduan pada kampung halaman dan berharap dapat segera bebas. Pantun tersebut terdengar sangat sedih dan menyayat hati. Saya bertanya pada petugas mengenai hal apasaja yang direkam dan bagaimana prosesnya? dan dia berkisah mengenai perekaman pada awalnya untuk sebuah riset yang diinisiasi seorang psikolog Jerman bernama Carl Stumpf yang juga seorang guru bahasa dengan tujuan menguasai dunia dengan sound culture. Tahanan perang dunia I yang berasal dari negara-negara jajahan merupakan sample yang luas untuk memulai penelitian. Dalam proses merekam tahanan diberi pertanyaan mengenai asal-usul juga kemampuan bermain musik, dan setelah itu mulai direkam suaranya. Ada yang hanya menghitung angka dengan bahasa masing-masing hingga ada yang bernyanyi penuh makna dengan harapan segera dibebaskan. Kondisi ini sekilas mengingatkan saya akan film bisu yang direkam oleh Jaap Kunst yang sudah saya tonton hingga selesai. Dalam video kompilasi dari berbagai wilayah nusantara tersebut, semua pertunjukan yang direkam bermakna peperangan. Dalam beberapa catatannya Jaap Kunst tidak menyoroti hal tersebut, dia hanya merekam dan mentranskrip musik dari wilayah tersebut, juga mengkisahkan bagaimana cara dia membujuk masyarakat untuk direkam yang tak jarang harus mengeluarkan sejumlah biaya. Berdasar catatan tersebut dapat diasumsikan bahwa masyarakat memilih pertunjukan perang sebagai representasi perlawanan akan kolonialisme untuk direkam oleh seorang kolonial, menjadi pertanyaan kemudian apakah arsip dapat melacak subaltern voice?

Di akhir tahun 2019 Kick-off program yang direncanakan digelar di Museum Nasional Indonesia, tanpa melibatkan saya dan Sri Margana (Sejarawan UGM). Tanpa banyak publikasi kegiatan tersebut memamerkan warisan Jaap Kunst yang berupa alat musik nusantara yang ditinggal di Museum of the Batavia Royal Society yang sekarang menjadi Museum Nasional Indonesia. Konon warisan alat musik yang tersimpan berjumlah 500 lebih dan beberapa masih dalam kondisi baik. Setelah kegiatan tersebut, kami tidak lagi mendengar kabar mengenai kelanjutan projek ini dengan pemerintah RI.

Di tahun 2020 bersamaan dengan pandemi, Barbara Titus menyampaikan kabar gembira mengenai program baru yang dia inisiasi yang bernama Decolonizing of South East Asia Sound Archive, dimana salah satu pilot projek nya membuka warisan Jaap Kunst. Dengan bekerjasama dengan banyak pihak baik dari Eropa dan SEA, DeCoSEAS  mendapatkan dana dari Joint Programming Initiative (JPI) on Cultural Heritage and Global Change supported by the European Union’s Horizon 2020 Research and Innovation Programme. DeCoSEAS ingin memerdekakan arsip-arsip mengenai South East Asia sehingga dapat diakses oleh umum dan membuka dialog mengenai arsip-arsip tersebut. Sebuah kegiatan yang menarik, tetapi perlu dipikirkan ulang bagaimana masyarakat post-colonial memandang arsip? Apakah urgent untuk diingat, dilupakan, atau mencatat sejarah baru?

Kritik Atas Relasi Arsip, Pengetahuan dan Kuasa Kolonial.

Gagasan membuka warisan Jaap Kunst yang sudah berusia sekitar seratus tahun mengalami perjalanan yang tidak sepenuhnya mulus. Dukungan dari pemerintah Indonesia sebagai state yang berelasi secara langsung dengan arsip yang tersimpan  sampai kini belum tampak nyata. Kegiatan Kick off mengenai warisan Jaap Kunst lebih seperti pameran alat music nusantara, bukan menyingkap sejarah colonial. Banyak factor yang tidak dapat dinisbikan ketika berelasi dengan arsip tersebut. Bill Schwarz menganggap  hal ini wajar sebagai bentuk dari remembering-forgetting (mengingat-melupakan)(Hansen, 2014; Paradis, 2013). Sementara Jordanna Bailkin menyatakan bahwa tidak seperti arsip nasional, sejarah colonial jarang diakui sebagai arsip bagi negara post-colonial(Hansen, 2014). Statement ini menarik, mengingat bagaimana Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia mengkonstruksi identitas bangsa dengan  mengambil langkah untuk BERDIKARI (Berdiri di kaki sendiri) atau bahasa kekinian Do It Ourselves sebagai gerakan menolak neokolonialisme(Lay, 2018). Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana bangsa Indonesia memandang arsip colonial.

Studi terbaru mengenai arsip dalam masyarakat colonial dan post-colonial telah menunjukkan sifat tidak pernah netral. Arsip colonial secara aktif merupakan bagian masa lalu menunjukkan bahwa pertama, negara colonial bermaksud mengumpulkan pengetahuan tentang masyarakat dan tempat untuk menaklukkan, memerintah dan mengatur secara lebih baik; kedua, mencerminkan kekuasaan dimana arsip tersebut secara aktif dibentuk dengan menciptakan subjek yang direkam; ketiga, mengekspos efek konstitutif arsip yang berimplikasi nyata untuk masa kini (Burton, 2020).

Kerja Jaap Kunst selama di Indonesia (1919-1934) menghasilkan arsip yang sangat berlimpah. Arsip tersebut menyoroti banyak masalah hal, seperti: cara Kunst mengumpulkan bahannya dengan ‘kolaborasi’ bersama musisi dari Indonesia dapat memberikan wawasan berharga mengenai pembentukan pengetahuan kolonial, ke dalam berbagai posisi subjek dan agen subjek para peserta, ke dalam banyak lapisan adaptasi epistemologis dan perampasan yang dipertaruhkan bersama, dan ke dalam kompleksitas budaya, estetika dan artistik untuk dalam hubungannya dengan kondisi kolonial, entah sebagai kolonial atau dijajah. Warisan juga dapat menjelaskan berbagai mode untuk mengetahui (konseptual, musikal, visual) budaya dan ekspresi, problematisasi perbedaan antara gaya musik asli dan impor, atau arsip tertulis dan terkandung, yang berelasi erat dengan disiplin etnomusikologi.

Namun, dialog dalam disiplin etnomusikologi mengalami perkembangan yang cukup dinamis sejak Jaap Kunst memulai dengan gagasan ‘comparative musikologi’. Sekitar dua decade konferensi, ruang kelas, blog serta literatur akademik merasa tidak nyaman dengan gagasan Jaap Kunst yang tidak bisa lepas dari sejarah colonial.  Karakteristik objektivitas ilmiah, evolusi budaya, dan penelitian lapangan yang menjaga jarak sosial antara peneliti dan yang diteliti dinilai mulai goyah fondasinya dalam konteks lanskap ilmiah yang semakin matang. Bahkan beberapa ahli menyatakan ‘Ketidakpastian’ menanggapi perdebatan akan pembagian disiplin etnomusikologi dan musikologi yang telah ada selama beberapa generasi(Post, 2017). Martin Stokes, menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, etnomusikologi mungkin ‘semakin dipahami’ oleh praktisinya sebagai bagian diskusi yang lebih luas dari pada teori dan metode. Stokes juga menyatakan ‘etno’musikologi mungkin tidak lagi mewakili tindakan banyak orang atau kelompok karena lebih menyiratkan musikologi milik orang lain(Stokes, 2011). Ini dapat diasumsikan sebagai unit budaya lain jika dilihat dari jarak ilmiah, atau pandangan yang dicapai dari dalam dunia music lainnya. Tampak batas-batas yang jelas, memisahkan ‘kita’dari ‘mereka’. Insecuritas etnomusikologi sebagai sebuah disiplin tidak hanya terjadi pada ruang diskusi yang sedang berlangsung tentang arah dan masa depan, tetapi beasiswa baru pun menawarkan perubahan praktek penelitian dan aliansi baru(Rice, 2017) .

Penutup

Perjalanan Jaap Kunst merekam music nusantara hingga menghasilkan disiplin ilmu etnomusikologi merupakan narasi yang menarik untuk diperbincangkan. Menyingkap kisah tersebut  seolah membuka kenangan lama yang ntah ingin diingat atau dilupakan. Seperti membuka album foto ketika berlibur di rumah nenek, ada memori tentang sebuah masa yang telah terlampaui dan bayangan akan masa depan yang mungkin akan mengulang kisah serupa atau berbeda.

Daftar Pustaka

Barendregt, B., & Bogaerts, E. (2014). 8. A Musical Friendship: The Correspondence between Mangkunegoro VII and the Ethnomusicologist Jaap Kunst, 1919 to 1940. In Recollecting Resonances. https://doi.org/10.1163/9789004258594_009

Becker, J., Kunst, J., & Heins, E. L. (1975). Music in Java; Its History, Its Theory and Its Technique. Ethnomusicology. https://doi.org/10.2307/850365

Burton, A. (2020). Empire in Question. In Empire in Question. https://doi.org/10.1515/9780822393566

H., F., & Kunst, J. (1956). Ethno-Musicology. Journal of the International Folk Music Council. https://doi.org/10.2307/834758

Hansen, R. (2014). Jordanna Bailkin. The Afterlife of Empire. The American Historical Review, 119(2). https://doi.org/10.1093/ahr/119.2.608

Herbst, E., & Herbst, E. (2019). Bali 1928 Music Recordings and 1930s Films. In The Oxford Handbook of Musical Repatriation. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780190659806.013.20

Lay, C. (2018). The Bandung Spirit: Nation State and Democracy. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities, 6(1). https://doi.org/10.14203/jissh.v6i1.55

Paradis, L. (2013). Bill Schwarz. Memories of Empire, Vol. 1: The White Man’s World. Oxford: Oxford University Press, 2011. Pp. 584. $65.00 (cloth). Journal of British Studies, 52(1). https://doi.org/10.1017/jbr.2012.54

Pelikan, M. P. (2013). Pelikan’s Antidisambiguation: The End of the Wax Cylinder as We Know It. Against the Grain, 25(4). https://doi.org/10.7771/2380-176x.6595

Post, J. C. (2017). Introduction: Redesigning and redefining ethnomusicology. In Ethnomusicology: A Contemporary Reader, Volume II. https://doi.org/10.4324/9781315439167

Rice, T. (2017). Ethnomusicology in Times of Trouble. In Modeling Ethnomusicology. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780190616885.003.0009

Rouget, G., & Kunst, J. (1960). Ethnomusicology, a Study of Its Nature, Its Problems, Methods and Representative Personalities to Which Is Added a Bibliography. Revue de Musicologie. https://doi.org/10.2307/927288

Stokes, M. (2011). Afterword: A worldly musicology? In The Cambridge History of World Music. https://doi.org/10.1017/CHO9781139029476.046

van Zanten, W. (1993). Jaap Kunst foundation. In Music and Letters (Vol. 74, Issue 4). https://doi.org/10.1093/ml/74.4.656-c

van Zanten, W. (1996). Jaap KUNST: Indonesian music and dance; traditional music and its interaction with the West. Amsterdam: Royal Tropical Institute/Tropenmuseum; University of Amsterdam/Ethnomusicology Center « Jaap Kunst », 1994. Cahiers d’ethnomusicologie. Anciennement Cahiers de Musiques Traditionnelles, 9.