Babak Usaba Sambah Dalam Drama Kehidupan Masyarakat Tenganan Pegringsingan, Bali

Abstract

The ritual life in Tenganan Pegringsingan can be seen as an allusion of the drama in everyone’s life. Every ritual has its own story, just like an act in a play. The acts are presented respectively in every sasih. Every sasih, from Sasih Kasa to Sadda pictures the life of a deity. It starts from the birth to death, from infant age to old age. The peak of life is described in Sambah using many symbols of human life that interacts with many people. The story that is presented through the symbols are played by the people and Krama Desa.The Usaba Sambah Ritual is an important phase in the life of the people in Tenganan Pegringsingan. As a cultural activity, Usaba Sambah carries a narration about the life of a deity who enters the adult life. A series of events are presented in a month each year. The declaration of adulthood is visualized by strings of mythological symbols. These symbols will then produce meanings for the people of Tenganan Pegringsingan, also for visitors who watch the ceremonies. The declaration of a deity’s adulthood is symbolized in the activity of eating together in a feast in each ritual, fighting in a war as the peak of the ceremony as the means of interaction of the society of Tenganan, and sex in the relationship between Truna and Daha that is constructed in the rites enables the cultural practice in Tenganan Pringsingan to remain until now.

Keywords: Usaba Sambah, action, ritual

A. Pendahuluan

Desa adat Tenganan Pegringsingan terletak di Bagian Timur Pulau Bali. Kehidupan keseharian masyarakatnya  tidak lepas dari legenda lahirnya desa. Seperti umumnya masyarakat Bali, ‘campur tangan’ para dewa terlihat secara nyata dalam legenda tersebut. Tanah Tenganan berdasarkan cerita yang berkembang merupakan pemberian Dewa Indra atas kesetiaan dan kepandaian wong Paneges. Tercatat mulai abad ke-11, sejak wong paneges menemukan Oncesrawa, mereka tinggal di Tenganan dan hidup  dengan kekayaan alam mereka. Leluhur orang Tenganan adalah orang-orang bijaksana yang tidak hanya memikirkan kehidupan mereka pada saat itu, melainkan juga kehidupan keturunan mereka. Mereka membuat awig-awig desa dengan sangat cermat, supaya Tenganan tidak ‘punah’ sampai beratus-ratus tahun, bahkan jika memungkinkan sampai selama-lamanya.

Kerja keras leluhur orang Tenganan membuahkan hasil, terbukti sampai sepuluh abad ini kondisi wilayah Tenganan tidak jauh berbeda dengan yang dituliskan dalam lontar berdasarkan legenda yang ada. Namun ketika orang Tenganan berkenalan dengan pariwisata secara intensif sejak tahun 1960an, kehidupan orang-orang di dalamnya menjadi berbeda. Pemenuhan kebutuhan hidup tidak lagi berasal dari hasil kekayaan alam yang diturunkan nenek moyang, namun juga dari orang luar yang datang ke Tenganan sebagai Turis.

Ada ataupun tidak turis yang datang, orang Tenganan tetap melakukan ritual secara rutin. Orang Tenganan memiliki modal material berupa lahan ladang yang luas, yang hasilnya mampu mencukupi kebutuhan hidup dan ritual yang diselenggarakan sepanjang tahun. Namun karena keberadaan turis, ritual tersebut menjadi sangat mewah dan megah. Salah satunya dalam Usaba Sambah ritual terbesar yang dilakukan selama satu  bulan. Mekare- kare atau perang pandan hadir sebagai ritus yang mengidentitaskan Tenganan menjadi semakin ‘ganas’ untuk mengesankan keberanian orang Tenganan. Sandiwara dipentaskan dengan ‘sempurna’ untuk turis, selain untuk orang Tenganan sendiri.

Upacara-upacara adat atau ritual keagamaan kemudian mereka lakukan dengan dorongan hanya sekedar melakukan tanpa benar-benar memahami ataupun berusaha untuk menggali maknanya. Jika pun pentradisionalan diri yang dilakukan tidak secara sadar atau secara langsung ditujukan untuk turis, namun tetap saja hal tersebut juga ditujukan untuk orang lain. Paling tidak  keterlibatan mereka tidak untuk diri sendiri, tetapi untuk sesama orang Tenganan, supaya mereka tidak dikenakan sanksi sosial, dan tidak menjadi bahan perbincangan sosial atau dikucilkan. Sampai sejauh ini dapat dikatakan orang Tenganan tidak pernah berusaha mencari makna dibalik semua upacara yang mereka lakukan, yang penting dilakukan.

Saat Usaba Sambah, penggunaan perhiasan seperti kalung, giwang, gelang, dan cincin yang semuanya terbuat dari emas berukir dengan berat sekitar lebih dari seratus gram  dikenakan bersamaan dengan gringsing, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Perempuan-perempuan Tenganan pun tampil semakin cantik dengan make-up yang cukup tebal. Semua kemegahan ini lebih didorong oleh keinginan agar orang bisa melihat bahwa Tenganan merupakan desa di mana orang-orang yang tinggal di dalam adalah orang-orang kaya yang masih mempertahankan tradisi.

Semua kemewahan tradisi yang dipentaskan ketika melakukan sebuah ritus akan memberikan kesan tersendiri bagi turis, dengan harapan turis akan datang kembali ke Tenganan karena kesan yang mereka lihat dan rasakan ketika menonton ritual yang mereka lakukan. Orang Tenganan adalah orang-orang yang secara langsung ikut merasakan pariwisata.

Keberadaan Tenganan sebagai desa adat adalah fenomena  yang sangat menarik dalam peta kebudayaan Indonesia hingga saat ini.  Ritual Usaba Sambah sebagai aktivitas rutin yang dilakukan selama sebulan penuh dalam setiap tahun digunakan sebagai objek yang akan dikaji dalam memandang kehidupan masyarakat ini yang ditampilkan. Bagaimana ritus Usaba Sambah ini bertahan hingga saat ini ditengah kondisi masyarakat Tenganan Pegringsingan yang hidup dalam dua dunia menjadi pertanyaan yang ingin dicari jawabannya. Performance studies digunakan sebagai payung untuk mendeskripsikan dan menganalisa aktivitas Usaba Sambah.

Performance studies menelaah semua aktivitas manusia yang  terstruktur dan secara potensial dapat dianggap sebagai performance (penampilan). Salah satu hal yang dikaji  dalam performance studies adalah aktivitas ritual (Schechner,2002 :25). Usaba Sambah merupakan sebuah aktivitas ritual yang ditampilkan.

Schechner menjelaskan tentang performance studies sebagai berikut.

…performance studies is… wide open. There is no finality in performance studies, either theoretically or operationally. There are many voices, opinions, methods, and subjects…, anything at all can be studied as ‘performance’ (Schechner,2002: 1).

 

Dengan demikian performance studies sebagai sebuah kajian sangat terbuka, dan tak ada batas di dalamnya, sehingga dapat dikatakan bahwa apa saja dapat dikaji sebagai sebuah performance atau ‘penampilan’.

 

B. Drama Kehidupan di Tenganan Pegringsingan

Masyarakat Tenganan Pegringsingan memandang kehidupan manusia seperti sebuah drama kehidupan. Berderet ritual dihadirkan seperti alur drama di setiap sasih. Sasih Kasa hingga Sadda menggambarkan kehidupan dewa. Dimulai dari lahir hingga mati; bayi hingga tua. Saat Sambah sebagai puncak dari kehidupan digambarkan dengan simbol-simbol kehidupan manusia yang mulai berinteraksi dengan banyak pihak. Kisah yang dihadirkan melalui simbol diperankan oleh segenap warga dan Krama Desa.

Konsep pelaksanaan upacara setiap sasih oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan disebut konsep nemu gělang. Nemu gělang digambarkan sebagai riwayat siklis; lingkaran (gelang), di mana tidak ada ujung dan selalu berputar. Seperti kehidupan manusia yang selalu berputar. Untuk menggambarkan perputaran kehidupan manusia, setiap sasih diselenggarakan ritual memperingati fase-fase kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan tersebut.

Tiap fase kehidupan manusia Tenganan dipandang sebagai tangga pembelajaran ihwal tata laku hidup. Untuk itu dengan seperangkat ritual, ada tutur soal etik hidup. Kehidupan itu sendiri adalah tantangan yang harus dihadapi. Gennep dalam bukunya Rites de Passage menyebutnya sebagai fase peralihan kehidupan yang menimbulkan sebuah krisis. (Schechner, 2002: 50). Krisis dalam kehidupan manusia adalah motivator untuk melaksanakan upacara dan persembahan keagamaaan. Dapat dikatakan bahwasannya upacara ritual bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan sebenarnya memperlihatkan dengan jelas bahwa di setiap sasih selalu terdapat waktu krisis.

Pada bulan kelima, upacara dilakukan untuk memperingati saat Dewa sudah memasuki babak usia remaja ke dewasa. Upacara dalam sasih ini sering disebut Usaba Sambah, upacara persembahan paling besar dan dilaksanakan dalam waktu yang paling panjang, yaitu sebulan penuh. Ini mungkin juga karena dalam usia remaja-dewasa, kehidupan manusia juga berlangsung dalam waktu yang relatif lebih panjang dibanding masa anak-anak ataupun tua. Ritual Usaba Sambah melibatkan semua masyarakat Tenganan Pegringsingan. Tidak hanya masyarakat Tenganan yang menjadi Krama Desa, juga masyarakat dari Banjar Pande, dan desa tetangga turut serta dalam kegiatan ini.

Pelaksanaan Usaba Sambah sebagai sebuah babak dalam kehidupan masyarakat Tenganan, terdiri dari berbagai ritual yang diibaratkan seperti adegan-adegan yang tertata. Secara kronologis adegan-adegan tersebut dimulai dari eksposisi, dengan menampilkan tokoh-tokoh penting dan latar dalam kehidupan. Dalam sebuah pementasan drama biasanya dimulai dengan pemaparan atau eksposisi. Pada  bagian ini diceritakan mengenai, tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita. Dalam wacana Usaba Sambah, eksposisi dilakukan dengan melantunkan teks samodana.

Samodana merupakan jenis tuturan ritual yang disampaikan oleh Krama Desa dan diikuti dengan tindakan tertentu. Misalnya, samodana diucapkan oleh seorang Krama Desa dalam Sangkěp. Perayaan Usaba Sambah berkiblat pada samodana rapat desa adat di Bale Agung. Samodana ini menyiratkan peristiwa yang telah, sedang dan akan berlangsung. Oleh karena itu, samodana menjadi pedoman dan wajib diucapkan serta dilaksanakan oleh Krama Desa dan seluruh warga desa adat dalam rangka Usaba Sambah.

Dimulai dari eksposisi yang berisi lantunan Samodana, kemudian dilanjutkan dengan komplikasi yang berisi konflik-konflik dihadirkan hingga menuju klimaks. Kegiatan muja (melakukan persembahyangan), mabuang (mempersembahkan tari sakral), dan manyunan (naik ayunan) merupakan adegan yang disajikan sebelum klimaks.  Mekare-kare atau perang pandan merupakan klimaks dari rentetan adegan yang ditampilkan. Pada rentetan ritus sebelum klimaks, konflik diselesaikan dengan berbagai macam sesaji, mabuang dan tetabuhan yang berupa tuak. Saat adegan klimaks, Mekare-kare dilakukan untuk mempersembahkan darah manusia sebagai tetabuhan.  Makesta (berpesta) merupakan adegan anti klimaks dengan Nyajah sebagai resolusi bahwa semua berakhir dengan indah dan harmoni. Penghadiran sesaji, mabuang dan tetabuhan sebagai simbol penyelesaian krisis yang terjadi dianggap sebagai sebuah resolusi dalam menyelesaikan konflik.

Simbol dihadirkan dalam ritual untuk menggambarkan kisah di balik peristiwa tersebut. Turner mengurai, “The symbol is the smallest unit of ritual which still retains the specific properties of ritual behavior. It is the ultimate unit of specific structure in a ritual context” (Turner, 1982 : 19). Maksudnya, simbol adalah unit (bagian) terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual. Itu sebabnya, pada bagian lain Turner juga menyatakan bahwa “the ritual is an agregation of symbols”( Turner, 1982: 2).

Untuk mempertajam analisa, kajian difokuskan pada Usaba Sambah, di mana pada fase ini, keberadaan simbol berperan penting. Ritual Usaba Sambah dimaksudkan sebagai gambaran kehidupan manusia dalam menghadapi krisis dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sistem simbol tersebut akan tampak rumusan pandangan-pandangan, abstraksi-abstraksi dari pengalaman yang ditetapkan dalam bentuk yang dapat diindrai, perwujudan konkret dari gagasan, sikap, putusan atau keyakinan dan unsur-unsur simbolis tersebut merupakan implementasi dari perasaan, emosi, sekaligus tindakannya yang seringkali menjadi pandangan hidup masyarakatnya ( Geertz, 1992 : 6).

Simbol-simbol yang dihadirkan dalam Usaba Sambah sangat beragam. Sesaji dalam bentuk makanan  selalu dihadirkan sebagai setting artistik dan resolusi dalam penyelesaian konflik yang timbul. Makanan menjadi utama dalam ritus ini. Penghadiran makanan dalam sebuah ritus diatur dalam tata rangkaian ritual yang dibacakan pada saat ritual akan dilaksanakan. Samodana sebagai tata rangkaian ritual ini seperti sebuah skenario yang mengatur sebuah adegan. Makanan disajikan untuk dipersembahkan kepada Dewa dan selanjutnya di bagikan ke seluruh warga. Konflik yang hadir seolah sirna dengan sesaji yang dipersiapkan. Makan bersama yang dilakukan juga sebagai sebuah jalan aman menyelesaikan sebuah konflik yang hadir dalam setiap adegan.

Perang pandan atau Mekare-kare ditengarai menjadi puncak dari acara dalam sasih ini. Banyak adegan yang menunjuk bahwa upacara ini menjadi klimaks dari kesatuan adegan. Darah manusia dapat dianggap sebagai puncak dari sesaji yang dihaturkan untuk bumi. Seperti diketahui bahwasanya dalam rangkaian upacara sebelumnya metabuh dihadirkan dengan tuak dan darah ayam.  Selain itu perang pandan merupakan identitas cultural yang disematkan untuk warga Tenganan Pegringsingan. Bukankah, saat berbicara tentang Tenganan, perang pandan dan gringsing menjadi ikon untuk lebih mengenal desa ini?

Upacara Mekare-kare ini dihadirkan dua hari berturut-turut. Hari pertama menjadi sebuah ritus yang sakral. Hanya warga desa adat yang boleh berpartisipasi menjadi pelaga, meski ritual ini kini terbuka untuk dinikmati dan ditonton oleh siapapun. Hari selanjutnya, perang pandan bersifat terbuka, siapapun boleh ikut berperang. Hadirnya panggung di depan bale petemu, menjadi sebuah tanda demitologisasi yang terjadi. Mitos  Dewa Indra yang membingkai peristiwa telah bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan murni.

Berkait dengan pariwisata di Bali dalam konteks perang pandan hari kedua dapat ditelusuri dari riwayat bagaimana pariwisata hadir di daerah ini. Pariwisata mulai berkembang setelah Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan 213 orang turis melalui KPM, sebuah agen perjalanan, pada tahun 1924 (Picard, 2006 :30). Kemudian pada tahun 1930 Desa Adat Tenganan Pegringsingan secara resmi menjadi salah satu dari objek wisata Bali yang eksotis dan sangat menarik. Hasil penelitian V.E Korn yang berjudul The Doors Republik Tenganan Pegringsingan secara tidak langsung menjadi media dalam mempromosikan Tenganan sebagai sebuah wilayah yang menawan untuk dikunjungi.

Keberadaan Tenganan sebagai daerah tujuan wisata yang merentang panjang sampai jaman sekarang, telah membuat warga Tenganan terlibat dalam industri pariwisata. Awig-awig yang dibuat oleh leluhur dengan cermat membuahkan hasil yang cukup baik. Kondisi Tenganan tidak jauh berbeda dengan yang dituliskan lontar berdasarkan legenda yang ada. Ritus hingga kini masih dijalani dengan baik, meskipun ada beberapa yang mulai bergeser fungsi dan maknanya. Pergeseran terjadi dikarenakan masyarakat Tenganan dalam keadaan liminal. Dalam pengertian sebagai tahap di mana orang mengalami suatu keadaan yang ambigu, tidak di sana dan tidak di sini, suatu keadaan ketidakberbedaan (undifferentiated) (Turner,1982 :95). Keadaan antara ritus yang sakral dan pertunjukan yang profan.

Keadaan ini juga mengantarkan masyarakat Tenganan Pegringsingan pada ‘ruang’ ambang pintu. Dalam situasi ini, komunitas mengalami keadaan ketidakberbedaan, sebuah pengalaman yang ‘anti-struktur’. Dalam ‘ruang’ tersebut, sebagai sifat liminalitas, masyarakat Tenganan Pegringsingan mengalami pengalaman dasar sebagai manusia, kesadaran akan eksistensinya sebagai manusia meningkat dan mengalami tahap refleksi formatif, dalam arti merefleksikan ajaran-ajaran dan adat-istiadat untuk membentuk diri sebagai anggota masyarakat dengan posisi yang baru.

Hadirnya stage dalam perang pandan hari kedua, menunjukkan sebuah peristiwa budaya yang dikontruksi atas kepentingan-kepentingan tertentu. Panggung  mulai dihadirkan sekitar tahun 1985 an. Pada mulanya hadir atas inisiatif para fotografer sehingga memudahkan mengambil momen peristiwa yang dihadirkan oleh sang pelaga. Hadirnya fotografer dalam peristiwa ini menjadi petanda bahwa Tenganan terbuka oleh media, yang dampaknya bisa dirasakan dengan disematkannya perang pandan sebagai identitas lokal Tenganan Pegringsingan.

Dalam istilah Schehner, peristiwa hari pertama dalam kategori as performance, karena ritus menjadi sebuah aktivitas warga adat yang ditampilkan. Sedangkan peristiwa hari kedua adalah is performance, di mana peristiwa tersebut dihadirkan dalam sosial konteks yang mengandung makna sejarah.

Hubungan antara Truna dan Daha juga menjadi utama dalam Usaba Sambah. Berkaitnya tema utama dalam sasih ini, menandai sebuah kedewasaan dan kematangan manusia dalam berinteraksi sosial. Dimulai dari peristiwa Meajak-ajakan dan ngěstiti, manusia Tenganan diberi identitas Truna dan Daha yang nantinya dapat melakukan regenerasi dalam lakon drama kehidupan yang terus berlangsung.

Tari Abuang berpasangan dihadirkan sebagai adegan romantis dalam drama kehidupan Tenganan. Begitu pula Upacara ayunan, perputaran roda kehidupan digambarkan dengan harmoni oleh Truna dan Daha sebagai aktornya. Tidak hanya itu, Abuang Muani mengingatkan kita bahwa Bhuta Kala pun ikut berpartisipasi dalam kehidupan ini, sehingga perlu diberi tetabuhan ke bumi, supaya keseimbangan selalu terjaga.  Tabuh rah pun dilaksanakan dengan Mekare-kare dan tajen dengan harapan supaya hasil bumi melimpah. Interaksi sosial juga dihadirkan dalam ritual dalam babak ini, ditandai dengan beberapa adegan seperti upacara maling-malingan yang berisi pelajaran moral, ngujangaji dan sangkep yang menggambarkan kebersamaan dan harmoni kehidupan. Nyajah, pesta yang melibatkan seluruh lapisan sosial yang berkait dalam kehidupan bermasyarakat di Tenganan Pegringsingan.

 

C. Makan, Perang, dan Seks dalam Ritual Usaba Sambah

Penampilan aktivitas ritual di Tenganan, selalu menghadirkan kegiatan  makan. Berbagi makanan menunjukkan dan memperkuat Tenganan Pegringsingan sebagai sebuah komunitas yang tak terpisahkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan makan dan minum tidak dapat dipisahkan dari kedudukan sosial seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat. Meski cara pengolahan, kegunaan, atau fungsi makan dan minum umumnya sama, cara pengadaan dan penyajian hidangan biasanya berbeda.

Terdapat muatan sosial yang memandang kegiatan makan bukan sekedar sebagai kebutuhan biologis, namun lebih dari itu juga sebagai sistem budaya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk, meliputi apa dan bagaimana makanan sebaiknya dimakan, pantasnya kombinasi makanan, pantasnya cara penyajian, waktu makan, peralatan yang tepat digunakan, dan tata penyajian yang baik.

Performance Studies memandang bahwa makan merupakan sebuah kajian dalam disiplin ilmu tersebut. Makanan selalu dihadirkan untuk persembahan kepada Dewa dalam sebuah ritual, kemudian setelahnya dibagikan (ajang) dan dihidangkan dalam sebuah perjamuan. Makanan yang dipersembahkan dalam konsep ritual tentunya memiliki aturan dalam tata cara memasak, memilih bahan, dan penyajian. Semuanya terangkai dalam simbolisasi yang dipahami oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan.

Makna diproduksi dari simbol-simbol yang ditampilkan. Penggunaan bahan makanan yang disajikan dalam ritual seperti babi, ayam, kerbau,dan lain-lain tidak hanya lahir begitu saja melainkan  memiliki kisah yang bermakna dalam setiap aktivitas yang ditampilkan. Darah contohnya, penggunaan darah sebagai sarana tetabuhan pada bumi dihadirkan secara bertahap, mulai dari darah ayam yang diteteskan dengan ritual sabung ayam atau metajen kemudian ritual perang pandan atau mekare yang notabene dengan darah manusia sebagai puncak dari ritual Usaba Sambah.

Perang pandan menampilkan permainan rakyat yang menyatu dengan prosesi ritual. Ada beberapa aspek permainan, seremoni, dan sebuah drama ritual, semua terjadi dan terasa pada saat yang sama. Ritual perang pandan  merupakan upaya mengaktifkan kembali mitos kisah kemenangan Dewa Indra dengan Mayadenawa yang memakan banyak korban dalam bentuk ritual yang seiring dengannya mengaktifkan kembali hubungan yang terbina pada masa lampau atau melahirkan makna baru tentang pengorbanan darah untuk memuja Indra.

Jadi, mitos selalu berkaitan dengan serangkaian tindakan pengaktifan kembali secara ritual dalam rangka menghidupkan makna, atau roh, atau perilaku yang terkandung dalam mitos itu ke dalam jiwa dan benak mereka. Di sini ada asumsi bahwa di dalam mitos ada makna, atau roh, atau contoh perilaku yang vital bagi kehidupan. Dengan begitu maka mengaktifkan mitos dalam bentuk ritual sama dengan mengaktifkan makna, atau roh atau perilaku yang berguna bagi kehidupan, baik dalam hubungannya dengan kekuatan alam yang lebih besar atau dengan manusia yang lain.

Mitos yang hidup di Tenganan menjadi teks yang penting untuk mengungkap perilaku masyarakat. Dalam keseharian masyarakat menghadirkan aksi dengan sejumlah narasi yang menjadi acuan. Seperti misalnya dalam Usaba Sambah. Setiap kegiatan yang dilakukan selalu memiliki narasi yang berkait dengan mitos. Sebagai contoh saat warga desa melakukan perang pandan atau mekare-kare, hampir seluruh warga menyatakan bahwasanya ini merupakan aktivitas untuk memuja dewa Indra, sebagai sosok yang telah berkorban demi seluruh umat manusia. Indra sebagai seorang dewa yang dipuja menjadi sangat layak mendapatkan tetesan darah dari tubuh satria Bali Aga. Para satria yang berperang seolah menjadi sosok Indra yang gagah perkasa. Menghayati peran sebagai sosok dewa Indra dan merasakan mengalahkan Mayadenawa dihadirkan dalam benak seluruh Truna yang berlaga,   sehingga darah menetes menjadi suatu kebanggaan. Menjadi layak jika mendapatkan simpati dari  Daha yang berdiri di sudut Bale Agung dengan pakaian terindah menyaksikan kegagahan sang Truna. Inilah moment dimana hati bertaut untuk melanjutkan tradisi.

Di Tenganan Pegringsingan para Daha dan Truna selalu dihadirkan dalam setiap upacara. Kehadiran Daha dan Truna dalam sebuah ritual seolah dikonstruksi oleh adat, untuk mempertahankan sistem endogami mereka. Hampir seluruh kegiatan ritual di Tenganan Pegringsingan melibatkan Truna dan Daha, apalagi pada saat Usaba Sambah. Usaba Sambah, dalam siklus kehidupan ritual Tenganan merupakan upacara yang menyiratkan bahwa Dewa pada usia remaja.

Ritual Usaba Sambah menghadirkan  kegiatan seperti tari abuang yang dilakukan Truna dan Daha secara berpasangan dengan harapan untuk menghadirkan rasa diantara mereka. Ritual ayunan pun demikian, diibaratkan adegan romantic yang selalu hadir setiap tahun. Kegiatan makan bersama dalam sebuah bingkai upacara seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya juga merupakan sebuah cara untuk menyatukan Truna dan Daha. Ritus dikonstruksi untuk mendekatkan  mereka sehingga dapat meregenerasikan budaya yang mereka miliki.

Aktivitas yang ditampilkan menjadi kajian menarik dari performance studies. Performance studies merupakan sebuah sarana dalam pencarian pesona sebuah entitas. Aktivitas pelaku budaya, penonton, makna dari simbol yang diproduksi, juga kekuatan sosial menjadi catatan penting dalam memahami budaya sebagai sebuah tampilan. Aktivitas masyarakat Tenganan Pegringsingan bak sebuah drama sosial dimana Krama Desa, Truna dan Daha menjadi aktor utama, sedangkan masyarakat lain menjadi penonton. Aktivitas yang terbingkai dalam aturan adat yang disebut awig-awig secara tidak langsung seperti skenario dalam sebuah drama. Kondisi Tenganan Pegringsingan saat ini yang mulai bersentuhan dengan  industri pariwisata menjadi set yang menarik dalam memproduksi makna.

Usaba Sambah sebagai ritus yang dipuja dilaksanakan setiap tahun. Hal ini tentu saja sesuai kepercayaan masyarakat yang tertera dalam awig-awig sekaligus kini menjadi agenda pariwisata kabupaten  Karangasem. Dualisme yang terjadi kemudian ditelaah sebagai sebuah tampilan secara utuh dalam kajian ini. Dari segenap aktivitas yang ditampilkan selama satu bulan dalam Usaba Sambah ditarik kesimpulan bahwasanya kegiatan makan, perang dan seks di anggap utama dalam ritus ini. Pendeklarasian kedewasaan dewa disimbolkan dengan  aktivitas makan bersama disetiap ritual,  perang sebagai puncak acara merupakan wahana berinteraksi masyarakat Tenganan secara luas,  dan seks dalam pengertian hubungan Truna dan Daha yang dikonstruksi oleh ritus menjadikan praktek budaya di Tenganan masih berlangsung hingga saat ini. Semua terbingkai indah dalam tampilan budaya yang mempesona di Tenganan Pegringsingan.

 

KEPUSTAKAAN

Geertz, Clifford. Tafsir Kebudayaan terj. F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Schechner, Richard. Performance Studies An Introduction. London and New York: Routledge, 2002.

Turner, Victor. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. New York: Cornell University Press,1982.

______________. From Ritual to Theatre: The Human Seriousness of Play. New York: PAJ Publications, 1982.

 

One thought on “Babak Usaba Sambah Dalam Drama Kehidupan Masyarakat Tenganan Pegringsingan, Bali

Leave a Reply to Pennie Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *