Kompleksitas Jaap Kunst dalam “Merekam” Etnomusikologi

(Oleh Citra Aryandari & Barbara Titus)

Eksposisi

Perkenalan saya dengan Jaap Kunst sebagai seseorang yang bergelut di bidang etnomusikologi belum pernah mencapai kata ‘akrab’, meski istilah etnomusikologi diinisiasi oleh nya. Saat masih di bangku kuliah saya mengenal Jaap Kunst dari  karyanya yang berjudul Music in Java sebuah buku yang banyak di kutip oleh mahasiswa ‘etno’, tetapi  maaf tidak dengan saya. Saya perlu mengakui bahwa saya tak pernah merasa tuntas membaca buku tersebut. Mungkin inilah yang membuat pemilihan subjek riset saya di bidang musik kemudian berbeda dengan etnomusikolog kebanyakan di Indonesia. Transkripsi gamelan yang menjadi bagian penting dalam buku tersebut ternyata dipahami sebagai suatu keharusan bagi etnomusikolog di Indonesia. Kata “menyimpang” dianggap syah untuk menandai seorang etnomusikolog yang tidak melakukannya. Ini tentu saja menarik untuk dibincangkan apalagi kalau dikaitkan dengan perkembangan disiplin ilmu ini yang cenderung lambat bahkan stagnan di Indonesia. Metode pembelajaran gamelan di Indonesia ternyata mengalami perubahan semenjak Music in Javaterbit. Partitur menjadi bacaan saat belajar memainkan gamelan. Padahal di Belanda (seperti yang saya lihat di Amsterdam Konservatori) mereka mempelajari gamelan tanpa partitur melainkan langsung mengingat suara dengan rasa.

Di tahun 2014 saya mendapat kesempatan untuk mengajar mengenai kebudayaan Indonesia (musik, pertunjukan dan festival) di UvA (Universiteit van Amsterdam). Dr. Barbara Titus menerima saya dengan sangat baik. Dia membagi ruang kerjanya yang sangat nyaman dengan saya. Ruangan itu cukup hangat di tengah musim gugur yang sangat berangin di Amsterdam. Barbara menceritakan bahwa terdapat lemari yang berisi koleksi milik Jaap Kunst di ruang kerjanya.  Dahulu ruang kerja tersebut milik Ernst Heinz (siswa Jaap Kunst) dan kini menjadi ruangan Barbara. Selain menceritakan sejarah ruangannya, Barbara juga menunjukkan harta karun yang tersembunyi di ruangan tersebut. Dia berkisah betapa bahagia dia menemukan itu seperti anak kecil mendapatkan  permen lolipop. Beberapa album tua dia tunjukkan dengan foto-foto yang beberapa dapat saya kenali. Terutama yang berkaitan dengan Bali, mengingat saya intens dengan Bali sebagai subjek riset saya sejak 2009. Foto-foto yang saya kenali kemudian saya captured dengan hp, dan tak lupa saya pamerkan di facebook. Saya juga merasa mendapatkan permen coklat pada hari itu. Selang beberapa menit saya mendapat pesan di messenger, seorang pemuda (arsitek) dari desa Tenganan Pegringsingan meminta saya untuk mengirimkan foto-foto lain yang berkaitan dengan desanya, dan permintaan tersebut langsung saya iyakan, meskipun dalam album tersebut sebenarnya saya tidak banyak melihat foto yang berkaitan dengan desa Tenganan selain proses menenun Gringsing dan hasil tenun Gringsing. Akan tetapi saya melihat beberapa pertunjukan rakyat seperti Joged Bumbung. Dan perburuan pun dimulai karena saya terlanjur berkata ‘iya’ kemudian saya mencari foto-foto mengenai desa Tenganan Pegringsingan di beberapa Bibliotheek yang tersebar di Belanda.

Di bulan Juli, 2015 saya mengunjungi desa Tenganan Pegringsingan untuk yang kesekian kali dan sangat terkejut dengan perubahan visual yang terjadi di Desa itu. Tenganan Pegringsingan mengubah tampilan sesuai foto-foto yang saya buru. Beberapa pohon di re-lokasi, tembok dengan batako diganti dengan bata merah, halaman Bale ditumbuhi rumput, dan banyak hal yang semakin menjadikan Tenganan tampak sebagai museum hidup. Dan intinya secara keseluruhan perubahan itu sangat mencengangkan bagi saya yang mengenal intim tiap sudut wilayah itu.

Di tahun 2016, seorang kawan beretnis Batak berkisah dengan saya (etnomusikolog) tentang kegundahannya melihat eksistensi musik Gondang, dia menyesalkan tentang banyak ragam yang kini tak lagi dikenal dalam perkembangannya. Saya teringat akan harta karun Jaap Kunst yang tersimpan di UvA, berupa foto, film dan juga rekaman musik Nusantara yang sedang dalam proses digitalisasi yang dikerjakan teknisi bernama Hans Romp, dan saya langsung menghubungi Hans Romp untuk meminta rekaman musik Gondang yang barangkali dapat mengurangi kegelisahan kawan saya tersebut. Waktu berjalan dan saya menerima berita bahwa musik gondang akan direvitalisasi dan rekaman-rekaman yang saya sampaikan menjadi referensi penting dalam proses tersebut.

Dua pengalaman ini tentu saja membuat saya bahagia sebagai manusia dan menyadari bagaimana pentingnya archive dalam pengembangan kebudayaan kini. Archive digunakan sebagai reference dalam melegitimasi identitas yang tersemat, dan kembali pada kejayaan masa lalu masih menjadi orientasi dari pelaku budaya di Indonesia. Ini mungkin berbeda dengan konsep pemikiran Barat yang mendengungkan postmodern untuk mengesampingkan yang besar, dam kita justru mencari kebesaran masa lalu  untuk menjadi subjek identitas kini. Kejayaan masa lalu dianggap karya yang masih layak dan harus dipertahankan. Lokalitas menjadi determinan baik dalam upaya pencarian ataupun peneguhan identitas, pastiche atau kerinduan spiritualitas dalam seni.

Di tahun 2017, Barbara Titus menyampaikan gagasan untuk membuka warisan Jaap Kunst. Selain yang terdapat di lemari ruang kerja, dia juga menemukan beberapa petunjuk bahwa saat meninggalkan Indonesia, Jaap Kunst memiliki sejumlah instrumen alat musik dari beberapa wilayah di Nusantara yang tidak dibawa ke Belanda. Barbara mencari dan menemukan sejumlah instrumen masih tersimpan di Museum Nasional dan belum dibuka. Dengan gagasan tersebut saya menawarkan diri untuk dapat terlibat lebih jauh untuk mengakrabkan diri dengan Jaap Kunst.

Berkenalan dengan Jaap Kunst

Jaap Kunst lahir di Groningen 12 Agustus 1891, besar dalam lingkungan musik karena bapak dan ibunya merupakan musisi (pianist) lulusan konservatory Leipzig dan Dresden. Sebenarnya Jaap Kunst adalah seorang pengacara tetapi sudah mulai mengenal lapangan (fieldwork) waktu dia masih menjadi mahasiswa jurusan hukum di kota Groningen. Dia meneliti musik di pulau Terschelling, pulau yang sangat kecil di Belanda Utara, dekat Groningen, sekitar  tahun 1915.  Dalam riset nya Jaap Kunst selalu mendekati masyarakat yang diteliti dengan dengan memainkan biola dan menyanyi, kemudian meminta masyarakat untuk memainkan musik dan menyanyi bersama, setelahnya masyarakat tersebut diminta untuk memainkan musiknya, dan kemudian Jaap Kunst dapat merekam musik tersebut. Jaap Kunst selalu bekerja dengan pola semacam itu saat di lapangan (Terschelling, Jawa, Bali, Flores, Sumatera, Nias, Irian Jaya). Metode tersebut kemudian dikenal dikalangan ilmuwan musik selaku “metode Jaap Kunst”.

Tahun 1919 Jaap Kunst berangkat ke Hindia Belanda untuk tour musik bersama pemain piano dan penyanyi. Selama delapan bulan mereka bermain musik hampir seratus konser di seluruh kepulauan Hindia Belanda (Bake 1962). Saat di Yogyakarta, Kunst mendengar gamelan Pakualaman dan tersentuh oleh suara dan kebudayaan yang begitu halus sehingga dia memutuskan tinggal di Jawa untuk mengumpulkan dan melestarikan musik di Jawa, Bali, dan beberapa pulau yang lain. Pada waktu itu, Jaap Kunst adalah salah satu peneliti pertama yang bisa menggunakan alat rekam untuk meneliti musik yang dianggap “asing” oleh orang Eropa.

Selama 15 tahun, sampai tahun 1934, Kunst, bersama dengan istrinya Kathy Kunst-Van Wely,  merekam lebih dari seribu silinder lilin (wax cylinders) dan kemudian dikirim langsung ke Phonogramm Archiv Berlin untuk dikonversi dalam bentuk piring hitam. Selain itu Jaap Kunst juga membuat foto, film bisu dan mengumpulkan alat musik di seluruh Hindia Belanda. Dia mengumumkan keragaman buku dan artikel tentang musik Indonesia, awalnya dalam Bahasa Belanda tetapi kemudian dalam Bahasa Inggris (Kunst 1931-1945; Kunst & Van Wely 1924-25; Kunst & Goris 1927). Publikasi ini membuat musik Indonesia diketahui oleh publik ilmuwan dan umum di seluruh dunia.

Karena Perang Dunia II mulai, Kunst tidak bisa kembali ke Hindia Belanda. Dia ditunjuk di Universitas Amsterdam (1934) dan mengajar di UvA sampai meninggal tahun 1960 dan tidak pernah kembali ke Republik Indonesia. Jaap Kunst mengajar untuk beberapa tahun di Universitas Amsterdam (UvA). Sekitar tahun-tahun tersebut ia mengembangkan Etnomusikologi, sebagai pengganti “Musikologi Perbandingan” yang kurang positivistik. Materinya dibentuk atas apa yang sudah didapatkan Jaap Kunst selama di Indonesia (1920-1934). Murid-muridnya: Felix van Lamsweerde, Ernst Heins, Mantle Hood, bertindak sebagai kurator dari Pusat Etnomusikologi Jaap Kunst. Ketika lembaga tersebut bubar pada akhir abad ke-20, arsip-arsip Jaap Kunst lantas menjadi bagian dari koleksi perpustakaan UvA dan Departemen Musikologi UvA.

Arsip-arsip Jaap Kunst sangat beragam, antara lain adalah audio-video, yang meliputi: wax rolls, berbagai jenis kaset, 78rpm, LPs, CDs, VHS, DVD, buku cetak, bahan-bahan ajar (glass plates, dias), korespondensi, catatan harian, dan foto. Jaap Kunst tidak bekerja sendiri, tapi juga dibantu murid-muridnya di era 1970 – 1980-an, juga oleh penerusnya antara dekade 1980 – 1990-an di Indonesia dan India. Arsip-arsip tersebut dikelompokkan dan dikatalogisasi dalam berbagai periode yang berbeda (oleh Kunst, Heins, murid-murid Heins, dan asisten paruh waktu). Akibatnya, sistem kategorisasi menjadi tidak konsisten. Beberapa bagian telah didigitalkan oleh Universitas, yang lain oleh Phonogramm Archiv di Berlin dan oleh dinas pengarsipan Belanda: Beeld en Geluid.

Heins sebagai murid Jaap Kunst menyatakan, ketika meninggalkan Indonesia koleksi alat musik dari berbagai wilayah Nusantara tidak dibawa serta. Alat musik tersebut hingga kini masih tersimpan rapi dalam kondisi baik di Museum Nasional Indonesia. Jumlah koleksi alat musik etnik mencapai kurang lebih 500 koleksi. Sampai saat ini koleksi tersebut belum pernah dibuka dan dipamerkan karena minimnya informasi mengenai keberadaan Jaap Kunst selama di Indonesia.

Jaap Kunst dan Etnomusikologi

Dalam komunitas etnomusikologi di Eropa, Amerika Utara dan Asia Tenggara, nama dan warisan Jaap Kunst masih mengandung normativitas tertentu, antara lain karena Kunst dianggap telah menciptakan istilah dan pengertian Etnomusikologi: “Musikologi dalam Konteks” (Dan dengan predisposisi estetika) dari budaya atau “etnis” tertentu, yang memerlukan praktik etnografi yang dilakukan dengan seksama. Di sisi lain gagasan ini membebaskan dan revolusioner dalam konteks “Musikologi Perbandingan” dan positivis—yang mengukur semua kreativitas musik dengan melawan segala kesadaran dan ketidaksadaran dalam predisposisi estetika Eropa, juga gagasan Kunst mengenai “etnos”—kelompok orang tertentu yang secara intrinsik menjadi berbeda dari yang lain—menjadi semakin bermasalah dalam praktik penelitian musikologis saat ini.

Para ahli musik awal abad ke-21 tidak hanya merasa bermasalah untuk menerapkan konsep intrinsik tentang perbedaan budaya dalam praktik penelitian mereka sendiri (Erlmann 2004, Agnew 2008, Byl 2014), namun mereka juga semakin mengamati bagaimana gagasan intrinsik tentang perbedaan ini mendasari kerja epistemologis dan justifikasi kekuasaan dan kontrol kolonial pada abad-abad yang lalu sampai sekarang (Said 1978, Mudimbe 1988, Bloechl 2008, Ochoa Gautier 2014). Dorongan kekuasaan ini sama sekali bukan masalah masa lalu: hierarki pengetahuan “putih” dan “hitam”, praktik musikal “pribumi” dan “impor”, arsip “tertulis” dan “lisan”, “komposisi” dan “improvisasi”, yang terus membangkitkan adopsi bawah sadar dari posisi dan sikap subjek yang superior dan inferior dalam interaksi sehari-hari, jurnalisme, produksi seni, dan para sarjana di seluruh dunia. Ini memperkuat wawasan bahwa beasiswa, seperti misi, jurnalisme dan kritik estetika, sangat bergantung pada, antara lain berbagai perangkat, inisiasi dan ide/fantasi “Eropa” sebagai sebuah budaya yang mandiri, superioritas dan entitas epistemologis (Chakrabarty 2000).

Keterlibatan Belanda dengan sejarah kolonialnya, yang dianut dan dipaksakan di Indonesia, mencontohkan kekuatan fantasi semacam itu hingga hari ini. Sedangkan implikasi politis dari perdagangan kolonial dan peraturan kolonial selama berabad-abad (termasuk Perang Dekolonisasi di tahun 1940an) secara ragu-ragu didahului oleh pers Belanda dan dalam penelitian yang didanai oleh pemerintah, implikasi epistemologis dan budaya dari interaksi kolonial hanya diteliti oleh beberapa Sarjana (banyak dari mereka dari luar Belanda) tanpa banyak berhubungan dengan arena politik, jurnalistik dan ekonomi.

Warisan Jaap Kunst menyoroti banyak masalah ini: cara Kunst mengumpulkan bahannya dalam kolaborasi dengan musisi dan asisten dari Indonesia dapat memberikan wawasan berharga mengenai pembentukan pengetahuan kolonial, ke dalam berbagai posisi subjek dan agen subjek para peserta, ke dalam banyak lapisan adaptasi epistemologis dan perampasan yang dipertaruhkan bersama, dan ke dalam kompleksitas budaya, estetika dan artistik untuk dalam hubungannya dengan kondisi kolonial, entah sebagai kolonial atau dijajah. Penelitian tentang warisan juga dapat menjelaskan berbagai mode untuk mengetahui (konseptual, musikal, visual) budaya dan ekspresi, problematisasi perbedaan antara gaya musik asli dan impor, atau arsip tertulis dan terkandung. Berbagai tempat (Amsterdam, Jakarta, Berlin) di mana warisan Kunst dapat ditemukan saat ini menunjukkan rute yang dia kunjungi di ruang kolonial selama abad ke-20.

Kesadaran Perekaman menuju Kesimpulan

Dalam catatan perjalanannya Jaap Kunst menuliskan:

‘at this time it is still possible to acquire knowledge and insight into Indonesian music and to record it for future generations. Within a few years, however in many places this opportunity will no longer exist. even now, there are areas where the former flourishing and complex indigeneous music has completely disapppeared (…) or where -in more or less tempo – it is the process of deteoriration’(Rapport 3,p.3).

Tulisan ini ditulis diawal tahun 1930 ketika Jaap Kunst membuat laporan tentang penelitian lapangan yang menjadi passionnya. Bagi Jaap Kunst penelitian lapangan berarti mencari informasi secara mendalam tentang konstruksi dan aplikasi dalam bermain musik, membuat rekaman dalam bentuk suara, film dan foto serta mengkoleksi instrumen musik dari kelompok masyarakat yang dikunjungi. Semua dikerjakan dengan harapan untuk memperoleh pengetahuan dan dapat digunakan untuk generasi mendatang. Jaap Kunst menyadari akan perkembangan jaman yang memungkinkan kebudayaan secara cepat ataupun lambat akan menghilang.

Etnomusikologi bukan sekedar permainan musik, pertunjukan, dan selesai dalam peristiwa penikmatan dari penonton. Akan tetapi etnomusikologi adalalah sebuah disiplin yang sangat kompleks di kepala Jaap Kunst. Ada upaya sebuah perekaman langsung di tempatnya lahirnya sebuah musik dengan atmosfir yang tak bisa dilepaskan. Kemudian pendalaman akan kehadirannya, dan tentu ini akan merujuk pada proses analisis untuk kebutuhan pengetahuan. Arsip tidaklah berhenti sebagai data bagi negara kolonial. Bukan sekedar kuasa atas apa yang ada di negeri koloni akan tetapi pertama perlu disimpan sebagai arsip yang berharga. Juga keperluan untuk analisis kemudian atas kerangka apa yang membangunnya. Etnomusikologi bukan tampilan sebuah pertunjukan. Perjalanan, riset, pembacaan, dan arsip adalah kesepakatan yang didisiplinkan untuk sebuah ilmu musik.

Mendekati Jaap Kunst melalui jejak nya dalam merekam Indonesia yang tertuang dalam berbagai media antara lain berupa rekam suara, foto, film, dan tulisan tentu saja tidak cukup bagi saya yang ingin menjadi seorang etnomusikolog. Perjalanan Jaap Kunst menyentuh setiap ruang baru merupakan kerja interdisiplin dalam mendekati musik dan konteksnya. Rekaman dan tubuh merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ini menjadi tantangan menarik bagi saya dalam posisi membuka jejak suara tersembunyi  yang direkam oleh seorang kolonial yang kemudian diwacanakan dalam segala kuasa yang dimilikinya, kini saya coba baca dan suarakan secara proksemik dalam keterbatasan subjektif yang menubuh. Masih adakah tempat  hiprokrit dalam melihat Jaap Kunst karena menghindari perjalanan dan sembunyi di balik bunyi instrumen tradisi di era kini? Kinilah saat membuka diri dan membaca kembali “etnomusikologi” Jaap Kunst. (Camar, 2019)

Literature

Agnew, Vanessa. 2008. Enlightenment Orpheus: The Power of Music in Other Worlds. New York: Oxford University Press.

Bloechl, Olivia A. 2008. “On Colonial Difference and Musical Frontiers: Directions for a Postcolonial Musicology.” In Native American Song at the Frontiers of Early Modern Music, 1-32. Cambridge: Cambridge University Press.

Byl, Julia. 2014. Antiphonal Histories: Resonant Pasts in the Toba Batak Musical Present. Middletown: Wesleyen University Press.

Chakrabarty, Dipesh. 2000. Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference. Princeton: Princeton University Press.

Erlmann, Veit (ed.) 2004. Hearing Cultures: Essays on Sound, Listening, and Modernity. Oxford: Berg (Wenner-Gren International Symposium Series).

Heins, Ernst, Elisabeth den Otter & Felix van Lamsweerde 1994. Jaap Kunst. Indonesian Music and Dance: Traditional Music and its Interaction with the West. A Compilation of Articles (1934- 1952) Originally Published in Dutch, with Biographical Essays. Amsterdam: Royal Tropical Institute / University of Amsterdam.

Mudimbe, V.Y. 1988. The Invention of Africa: Gnosis, Philosophy, and the Order of Knowledge. Bloomington: Indiana University Press.

Ochoa Gautier, Ana María. 2014. “The Ear and the Voice in the Lettered City’s Geophysical History.” In Aurality: Listening and Knowledge in Nineteenth-Century Colombia, 1-29. Durham: Duke University Press.

Said, Edward 1978. Orientalism. New York: Pantheon.
Sumarsam 2013. Javanese Gamelan and The West. Rochester: University of Rochester Press.